Teknik Standup Comedy Untuk Menulis Cerita

Gue pernah ditanya, “Yu, gimana sih caranya menulis cerita yang lucu?”

Waktu itu gue gak jawab pertanyaannya. Karena memang gue gak tau.

Menurut gue lucu itu sama seperti cantik, relatif. Tiap orang punya porsinya sendiri untuk mengatakan sesuatu itu lucu.

Kalo ngeliat bayi yang lagi belajar ngomong ‘mama’, pasti mayoritas bilang, “Ihh bayinya lucu..”

Cewek kalo ngeliat tas yang bagus bentuknya, mereka juga bakal bilang, “Tasnya lucu ya sayang, coba aku punya itu.” kode banget

dan kalo kita ngeliat pacar kita jalan sama pria/wanita lain, kita juga akan bilang, “Lucu banget ya hidupku, udah sayang tapi dikecewain.”

Lucu serupa dengan cinta. Hanya perasaan yang dapat mengerti kenapa sesuatu itu kita anggap lucu.

Dulu ketika gue mau menjajal untuk melucu di depan orang banyak, atau dikenal dengan open mic gue gak cuma mempersiapkan materi, gue juga sedikit belajar mengenai teknik standup comedy.

Ternyata teknik stand up comedy itu penting banget. Karena melucu itu bukan cuma hahahah hehehehe doang, penonton bisa mendapatkan hikmah dari lawakan yang disampaikan, minimal penonton ngomong dalam hati, “Oh iya, kok bisa begitu ya.”

Nah, dari teknik standup comedy itulah gue akhirnya bisa menulis kumpulan cerita komedi.

Oke, disini gue mau membahas beberapa teknik standup comedy yang bisa kita gunakan untuk menulis cerita komedi. Gue mau kasitau juga, di dalam stand up comedy itu cuma ada dua hal yang harus dipenuhi, yaitu setup (bagian tidak lucu) dan punchline (bagian yang lucu). Check this out ..

One Liner

Kalo kalian tau UUS, komika garing itu, kalian pasti tau gimana teknik ini.

Teknik ini mengharuskan komika untuk menyingkat kata-kata dari setup dan punchline menjadi satu kalimat pendek. Kekurangannya adalah penonton belum bisa mengerti langsung sama apa yang disampaikan. Kalo dengan menggunakan setup yang panjang, penonton akan menunggu punchline, dan tertawa ketika punchline keluar. Tapi itu juga membuat penonton kecewa kalo punchline gak lucu. Kalo menggunakan teknik ini dukanya adalah penonton kadang telat ketawa.

Contohnya, “Nyari cewek itu gampang, nyari dukunnya yang susah.” atau “Gue kemaren lari, tapi gak capek, karena gue lari dari kenyataan.”

Gue lupa itu joke siapa, yang penting bukan gue yang buat. Teknik itu sepertinya bisa mulai diterapkan untuk menulis cerita komedi. Namun, teknik ini terbilang cukup sulit karena kita harus benar-benar bisa menyingkat setup dan punchline.

Rule of Three

Cerita di awal tulisan ini ada teknik rule of three yang gue pake. Coba liat lagi ke atas.

Teknik ini cukup sering digunakan untuk standup comedy, dan sering juga akhirnya jadi gak lucu karena udah bisa ketebak. Kesulitannya terletak di sana, sebagai penulis kalo mau make teknik ini harus benar-benar membuat apa yang ada di kalimat ketiga itu berbeda jauh sama yang pertama dan kedua.

Teknik ini menggunakan tiga kalimat. 2 sebagai setup yaitu kalimat 1 dan 2, dan 1 kalimat punchline di kalimat ke 3. Gue sering nonton perform komika dan banyak yang menggunakan teknik mainstream ini. Beberapa berhasil, beberapa lagi cuma menghadirkan senyum.

Tapi kalo untuk tulisan, sepertinya itu masih bagus untuk dipake, asal jangan keseringan.

Callback

Bagi yang udah baca kumcer komedi gue yang kalah tebal dari majalah BOBO. Semoga menyadari kalo di BAB ‘LELAKI MUKA PASARAN’ ada teknik callback.

Dalam bab itu awalnya gue bercerita kalo gue pernah dianggap penjual nasi goreng karena tampang gue Jawa banget. Punchline yang gue pake disini, ‘Gue disangka penjual nasi goreng”. Cerita awalnya ketika gue mau bayar nasi goreng, uang yang gue gunakan 50 ribu, karena gak ada kembalian penjualnya nukarkan uang dulu, jadilah gue yang jaga gerobaknya.

Hal itu yang buat gue disangka penjual nasi goreng.

Terus di akhir cerita punchline ini gue masukin lagi dengan kalimat yang berbeda namun maknanya sama, “Mas, nasi gorengnya satu..”

Setupnya juga berbeda.

Pada akhir cerita ini, setup yang gue pake itu tentang perdebatan gue sama mbak kasir minimarket karena mengganti uang logam dengan permen, nah ketika gue akhirnya nerima permen itu, gue pergi dengan perasaan marah, pas gue buka pintu, mbak kasirnya manggil gue lalu mesan nasi goreng.

Yang harus diperhatikan adalah usahakan setup tidak mirip. Karena, kalo setupnya mirip pembaca bisa menduga kalo punchlinenya juga bakalan sama atau diulang.

———

Sebenarnya masih ada beberapa lagi teknik yang bisa digunakan. Gue juga udah sering baca waktu blogwalking. Banyak blogger personal yang menerapkan teknik personifikasi, hiperbola dan comparison.

Banyak yang menjadi lebay bercerita untuk menghadirkan sisi lucu, berarti mereka menggunakan hiperbola. Beberapa bisa buat gue ketawa dan beberapa lagi cuma buat gue geleng-geleng kepala karena ngerasa imajinasi penulis luar biasa gila. Personifikasi juga sering dipake blogger, dengan membayangkan benda mati itu berbicara selayaknya manusia. Begitu juga dengan comparison ada sisi lucu yang bisa ditonjolkan dengan membandingkan sesuatu. Semisal membandingkan koneksi internet di desa dan di kota.

“Koneksi internet di kota itu enak, mau upload foto dalam hitungan detik udah bisa ke upload. Kalo di desa itu susah. Mau upload foto aja harus manjat pohon kelapa biar dapat signal. Kalo belum dapat juga kita nyari pohon kelapa yang lebih tinggi. Kalo pohon kelapanya bisa bicara dia pasti bakalan marah. Karena kalo niatnya untuk cari yang lebih tinggi, kenapa pernah singgah ke tempat yang rendah.”

Kalimat di atas gabungan dari comparison, hiperbola, dan personifikasi. Soal lucu, balik lagi ke pembaca.

Terimakasih sudah membaca. Gak usah terlalu terpaku sama teknik. Tulis aja apa yang dipikirkan, lalu cari keresahan, dan ubah keresahan itu untuk ditertawakan.

Advertisements

9 thoughts on “Teknik Standup Comedy Untuk Menulis Cerita

  1. kalo gue pribadi sih teknik2 sten ap itu yang paling aman rules of three. Kalo oneliner itu bahaya banget kena “apasih?” dan juga emang balik lagi sih ke persona. Soalnya persona ini penting banget…

    • Iya, lo banyak make rule of three, gue sering nemuin di postingan blog lo.

      One liner ini cocoknya di duetkan sama callback. Jadi, kalo di awal gak ngerti, bisa di beri penjelasan lebih di akhir.

  2. Oh Uus itu garing ya.. Kok banyak dipakek sik? ._.

    Berhubung aku gak bisa stand up comedy en kurang ngerti jugak, aku nyimak aja ya, Yu :p

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s