Komedi

Potong Rambut dan Indonesia Ku

Kemaren gue potong rambut.

Sebelum kalian komen aneh, gue bakalan komen duluan, “INFO YANG SANGAT TIDAK PENTING WAHYU!!”

Gue selalu bingung mau potong rambut dengan gaya seperti apa. Gue cari-cari di internet, semua gaya potongan rambut gak ada yang jelek. Begitu diterapin ke gue, jadi jelek. Emang potongan rambut gak bisa mengubah wajah ya, hanya membantu untuk terlihat lebih rapi.

Gaya potongan rambut itu bagi gue udah kayak sayang sama cewek. Kalo udah nyaman dengan satu gaya potongan rambut, susah untuk mencoba gaya lain. Kayak gue mau selingkuhan cewek yang gue sayang aja gitu. Ada rasa ragu untuk mencoba gaya rambut baru. Ragu apakah gue bakalan nyaman sama gaya itu, atau gue menyesal karena ternyata potongan rambutnya membuat gue semakin terlihat menyedihkan.

Untung banget sekarang udah banyak bermunculan Barber Shop yang dikelola oleh anak muda.

Selain tempatnya yang nyaman, juga udah gak ada lagi poster gaya lama.

Gue belum pernah sekalipun minta dicukur seperti apa yang ada di poster. Gue gak mau aja wajah gue makin terlihat tua karena gaya potongan rambut 80an.

Tapi, gue belum pernah ke barber shop.

Bagi gue sih, semua tukang cukur itu sama. Muda ataupun tua, mereka sama-sama memiliki keahlian dalam mencukur. Hanya saja taste yang berbeda karena era yang berbeda. Gue gak bisa ngebayangin andai saja gak ada regenerasi untuk tukang cukur.

Pemandangan jadi bakalan aneh.

Semua pria memiliki rambut panjang.

Coba deh bayangin Messi lari di lapangan sambil megangin rambutnya biar gak keinjek sama lawan, tapi ujung-ujungnya tetap keinjek. Bisa depresi Messi. Mau berapa botol shampo lagi yang dihabiskan untuk keramas.

Bayangin juga pelatih sepakbola yang lagi ‘ngepang’ rambut pemain cadangan, biar pemain cadangan ini gak keramas terus.

Bisa jadi diumur gue yang 21 tahun ini, rambut gue udah bisa untuk ngepel lantai.

Bersyukurlah karena tukang cukur ada regenerasi.

Gue potong rambut karena Kamis 18 Agustus 2016 gue sidang skripsi.

Gue gak mau aja gagal lulus karena gue gak rapi. Gue kebayang acara di Indos*ar yang nyanyi-nyanyi itu.

Gue bakal presentasi mengenai skripsi gue, lalu dari penguji akan mengajukan pertanyaan. Gue takut aja salah satu dari mereka komentar tentang penampilan gue.

“Wahyu, presentasi kamu bagus. Materi yang kamu bawain juga kamu kuasai. Tapi, rambut kamu gak cocok begitu.” Dia menghampiri gue

“Rambut kamu ini bagus, mudah ditata, namun kamu kurang make pomade, jadi ada beberapa rambut yang menutupi mata kamu.” Dia ngambil pomade di tasnya dan nyolek pomade make jari telunjukknya

Gue cuma diam sementara penguji ini ngerapiin rambut gue.

Kalo wajah tetap gak bisa dirapiin.

“Nah, kalo begini kan kamu lebih rapi dan charming.” Dia balik ke kursinya, “Baru deh kamu saya luluskan.”

——

Gue juga mau ngucapin selamat ulang tahun untuk indonesia yang ke 71.

Harapan gue untuk indonesia adalah pembangunan infrastuktur yang merata, pendidikan yang lebih ditekankan ke akhlak dan moral untuk generasi selanjutnya supaya tidak menjadikan generasi indonesia yang cengeng, cubit dikit lapor polisi.

Cengeng banget. Lo gak pernah ngerasain nabung berhari-hari cuma untuk beli umang-umang yang mati dalam 2 hari.

Gue dulu SD di daerah terpencil. Jangankan jaringan untuk internetan, untuk nelpon aja kita gak bisa. Dari banyak murid SD cuma segelintir orang yang mau melanjutkan pendidikannya ke SMP dan SMA. Karena memang SMP itu jauhnya 28 km dari kampung. Orang tua yang memiliki pandangan berbeda soal pendidikan, maka anaknya akan disekolahkan, yang tidak yaudah anaknya diajak menjadi nelayan.

Perkampungan tidak butuh guru-guru yang bergelar sarjana. Mereka butuh guru yang mau mengajar dan mendidik anak mereka. Sekedar bisa menulis dan membaca, itu lebih baik daripada generasi Indonesia buta aksara. Namun, akses ke perkampungan dan daerah terpencil jadi hambatannya. Kesejahteraan guru perkampungan juga perlu diperhatikan.

Gue begini bukan asal ngomong aja.

Gue pernah menjadi saksi hidup dari bapak yang menjadi guru di perkampungan. Harus meninggalkan emak yang berada jauh dari dia demi mengabdi untuk negara, waktu itu gue masih bermain di dalam perut emak. Pernah dihina tetangga karena PEGAWAI kok gajinya gak ada. Sebenarnya ada, hanya saja distribusinya yang lama. Sekarang, bapak membungkam mulut tetangganya itu dengan bukti nyata, bahwa menabung itu lebih baik daripada hanya berbicara merendahkan orang lain.

——

Terimakasih udah membaca.

Doakan gue supaya lancar sidang skripsi besok ya. :))

Advertisements

6 thoughts on “Potong Rambut dan Indonesia Ku

  1. Kemaren sidangnya udah selesaikan, yu. Wah… selamat, ya. Atas kelulusannya. Semoga ilmunya berkah dan menambah pengetahuan buat orang lain.

    Terus majukan negeri ini dengan pendidikan yang kita miliki, semoga indonesia juga lebih baik, sih. Soalanya, dari dulu sakit mulu.

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s