Where?

Bulan september lalu gue terakhir make Blackberry Messenger.

Kalo dikalkulasikan berarti udah hampir 3 bulan gue nonaktif dari dunia messenger yang masih populer yaitu bbm. Gue masih make blackberry curve 8520 yang sekarang cuma jadi seonggok ponsel dengan pesan masuk terbanyak dari Telkomsel dan juga dari website yang mengharuskan nomor handphone sebagai verifikasi. Disetiap online shop gue make nomor yang ada di BB, nomor satu lagi gue gunain untuk sms dan nelpon.

Ntah kenapa, gue jadi terbiasa tanpa Blackberry Messenger selama 3 bulan ini.

Uang yang gak gue gunain untuk paket bbm itu gue alihfungsikan untuk beli paket modem. Ada yang gak enak kalo make BB adalah paket yang diambil gak bisa digunain untuk internetan, mana mahal lagi. Beda sama paket yang diambil untuk smartphone berOS Android. Karena itulah BB gue hanya jadi smartphone yang tidak ‘smart’ lagi.

Sedikit intermezzo untuk keinginan gue tahun depan. Bisa beli smartphone.

Komedi gue akhir – akhir ini hilang ntah kemana.

Postingan yang ada pun tidak lagi ada kata – kata yang merujuk kearah komedi. Apa ini efek gue yang udah semester 5, yang udah dihadapkan sama PKL. Ditambah lagi kemaren gue baru aja mengikuti Pelatihan Manajemen Keuangan Publik. Pelatihan yang membahas bagaimana sih pemerintah menargetkan program sesuai anggaran yang tersedia di APBN/APBD. Gue juga kedapatan sebagai kelompok yang mempresentasikan dengan tema “Jika kalian jadi Gubernur, dengan anggaran 2 Miliar, buatlah alokasi anggaran yang akan kalian lakukan”

Sampe jam 3 pagi gue buat anggaran itu. Akhirnya selesai dan ternyata presentasinya gak serius – serius amat. Kampret. sia – sia begadang gue. Untung aja selesai pelatihan di kasi uang transport, kalo enggak berarrti gak dikasi.

Menulis gue memang gak lagi merujuk ke komedi utuh. “Sedikit baca, sedikit yang akan lo tulis” gue percaya sama statement itu. Pertengahan 2013 sampe januari 2014 gue gencar banget nyari materi untuk open mic di komunitas stand up comedy Pekanbaru. Lambat laun sense of comedy gue memudar. Jika sebelumnya gue bisa mengambil unsur lucu dari orang yang jalan sambil mainin smartphone, atau juga cewek dengan lipstik berwarna merah muda dan airliner yang begitu tebal ditambah lagi alis yang dicoret pake spidol trus kalo naik motor bibirnya ditutupi masker biar debu gak nempel dibibirnya yang merah itu. Capek juga ya baca tanpa ada tanda baca koma.

Gue gak bisa mengungkapkannya lagi.

Temen gue dikelas pernah nanya “Gak ikutan stand up comedy yang diadain fakultas kita Yu?”

“Gak keknya, aku gak lucu.”

Dia menyeruput teh pucuk ditangan kanannya “Kalo aku perhatiin, kau lucu kok Yu.”

Tetap aja gue gak niat untuk ikutan lomba stand up comedy. Alasannya sederhana, gue gak punya uang untuk pendaftarannya. 40 ribu waktu itu. Menang juga kagak pasti.

Lucu? Dimana?

Waktu semester 2 di kelas bahasa inggris, gue pernah disuruh maju untuk melakukan percakapan dengan teman yang sudah ditentukan dosen. Setelah melakukan tugas dengan cukup apik (menurut gue, kalo menurut dosen ya buruk) gue kembali ke kursi. Lalu teman di belakang ngomong..

“Yu, kau kalo kek tadi mirip Mr. Bean, tapi versi jawa”

“Kampret”

Hati gue berkata lain, “Iya sih, aku kek Mr. Bean.”

Gue sering ngomong dengan diri gue sendiri, seperti layaknya Mr. Bean. Bukannya apa – apa, gue hanya takut orang lain gak mengerti apa yang gue omongin, makanya gue ngomong sama hati, pikiran, bahkan motor. Tingkah gue ketika lagi didepan banyak orang juga aneh, waktu itu lagi presentasi kebetulan gak ada dosen dan gue jadi moderator. Gue bebas ngomong apa aja, sampe satu momen pas semua pada ribut gue spontan ngomong, “Hello everybody”, bukannya diam, mereka malah ketawa.

Something wrong?

Jelas ada yang salah, ini kan presentasi seharusnya formal, bukan lagi konser Wahyu Yuwono yang ganteng.

Di 7 postingan terfavorit ada stand up comedy. Dan itu postingan yang pasti dicari setiap harinya di blog ini. Semoga aja mereka yang nyasar ke blog ini untuk mencari materi stand up comedy menjadi orang yang tetap mendapatkan komedi dari hal yang telah mereka jalani. Karena “Komedi adalah Tragedi + Waktu”.

Pengaruh apa yang gue pelajari di kampus, apa yang gue baca, orang – orang yang ada disekeliling gue menentukan tingkat humor yang gue miliki. Temen – temen gue sekarang bisa dibilang semuanya serius, humor mereka sedikit dan gak begitu baik.

Sebelum masuk ke konsentrasi manajemen keuangan, gue dan temen2 gue (yang dulu) sering main futsal. Minimal ada 10 orang kita pasti main futsal. Main futsal pun gak serius, kita becanda sambil main futsal, kita juga gak make atribut olahraga, bahkan ada temen gue yang make jeans dan batik sebagai kiper. Karena memang kita gak mempersiapkan pakaian olahraga. Tapi itu beda sama sekarang, temen gue yang sekarang itu kalo masalah bola mereka serius, gak ada main dengan becanda, dan gak level main sesama teman, harus main dengan lawan.

Gue rindu perkumpulan yang dulu.

Gue harus beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang gue alami. Gue masih aja bisa menjadi orang lucu asal gue tidak kaku dengan apa yang terjadi disekitar. Keep fighting.

Dan, sekarang kemana letak syaraf di otak yang bisa mengembalikan sense of comedy gue?

Advertisements

50 thoughts on “Where?

  1. Menurut gua, komedi itu bawaan lahir. Kalo lu emang lahir membawa itu, sampai kapan pun gak bakal ilang. Dan sekarang mungkin lu bukan kehilangan, tapi cuma belom bisa bangkitin itu lagi.

  2. wah jarang diasah jadi begitu tuh selera komedi bisa luntur . kalau aku siasatin sering interaksi dan komenin semua yang aku alamin dengan cara ditulis. gak lucu atau gak dapat tawa urusan nanti πŸ˜€
    ya walau sakit hati ngelawak gak ada yang ngetawain sih πŸ˜€

  3. Sama, Yu.. Aku jugak pengen beli smartphone nih. Taun depan semoga bisa kewujud deh.. πŸ˜€

    Mungkin kamu lagi suntuk aja tuh. Lagi bosyen. Butuh sesuatu yang baru.

  4. Mending tonton lagi tuh video stand up comedy comic lain, siapa tau lo bakalan dapet bahan lagi buat bikin makhluk di sekitar lo ketawa lepas. Jangan pesimis dulu, jalanin aja. Lambat laun semuanya bakalan mengalir karena terbiasa. Semangat broo!!

  5. Teman emang bisa membawa pengaruh besar bro, kalau mau sense of comedy lu balik, cari aja temen sesama komedi lain, sering-sering kumpul sama komunitas Stand Up lu aja lagi πŸ™‚

  6. Harus sering ngobrol ama orang lain, terutama orang-orang yang lawak juga, sapa tahu dapet ilham dari obrolan itu.

    Dan juga harus ngobrol ama orang yang sering di jadiin cengcengan, yah sapa tahu pada dapet buat bahan ledekan haha

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s