Kafe Yang Baik #AlaWahyu

Nongkrong sambil minum kopi itu asik.

Gue selalu mengusahakan sabtu malam untuk pergi sama pacar ke kafe atau tempat nongkrong. Bukannya mau pamer atau sok kaya, cuma gue suka aja nongkrong di kafe dengan suasana musik yang ditawarkan di kafe itu. Memang gak akan kenyang makan di kafe, mau kenyang ya bayar lebih mahal. Kalo mau nyari kenyang, gue bisa ke nasi uduk atau rumah makan padang, harganya palingan cuma 15 ribu dan bikin kenyang banget, sedangkan di kafe makanan bisa nyampe 25 ribu tapi gak bikin kenyang.

Ke rumah makan padang gak harus nungguin sabtu malam, gue bisa kapanpun gue mau ke rumah makan padang asal rumah makannya masih buka. Sabtu malam itu waktunya refreshing, jadi gue nyari tempat nongkrong.

Tapi, kadang tempat nongkrong buat gue berucap “Keknya sekali ini aja nih kesini”. Ada beberapa kesalahan yang buat gue males datang ketempat itu lagi. Gue memang bukan orang yang pintar dalam menilai sesuatu, gue selalu mengandalkan feeling aja, dan itu yang buat penilaian gue gak sama dengan kebanyakan penilaian orang.

Beberapa hal yang buat gue gak suka dari sebuah tempat tongkrongan

1. Tempat yang gak bersih
Malam minggu kemaren gue sama Melly ke kafe yang kita belum pernah datangi. Entah kenapa gue suka banget hunting kafe – kafe yang belum pernah gue jamah. Di kafe, gue jarang makan dan paling sering itu mesan kopi lalu ngabisinnya lama – lama. Kalo gue punya smartphone android atau IOS mungkin gue bikin mereka jadi kesal, karena ke kafe cuma internetan.

Kafe malam itu yang kita datangi menurut feeling bodoh gue “Kafenya bagus”. Meskipun sempat ragu untuk memasukinya, gue tetap masuk. Mau ketempat lain udah jam 8 malam jugak, sementara kos Melly tutup jam 10 malam. Kan gak lucu kalo kita telat pulang, trus Melly gak boleh masuk kos, pasti gue yang disalahin.

Kita masuk…

Setiap masuk kafe, gue selalu bingung ini kafe make cara ‘pesan dulu baru duduk’ atau ‘duduk dulu baru pesan setelah ditawarkan’. kampret banget kalo kita udah duduk lama tapi gak ada pramusaji yang menawarkan, mau komplain pun kita sendiri yang malu kalo dia bilang “Maaf mas, disini pesan dulu baru duduk”.

Gue sama Melly duduk dimeja yang cuma punya dua kursi. Ya untuk mendapatkan momen lebih indah dan quality time dengan gue memandangi wajah Melly dan Melly memandangi wajahnya sendiri *lah. Momen indah itu harus hilang dan dirusak karena meja yang kotor, lebih parahnya kafe tersebut gak menyediakan tisu untuk setiap meja, dan lebih hancurnya lagi adalah ketika gue mintak tisu yang dikasi roll tisu, tisu yang ada di toilet.

Gue heran banget kenapa kafe gunain tisu toilet, apa gue siap ngopi – ngopi cantik langsung ke toilet?. Hemat biaya gak gini juga kali.

2. Musik yang gak easy listening
Kehadiran band yang manggung dikafe itu gue rasa sangat perlu. Alunan yang easy listening bisa membuat orang yang mendengarnya jadi mellow, nah itu alasan kenapa minimarket sering muterin lagu yang easy listening, supaya pembelinya bertahan lebih lama di dalam minimarket lalu secara tidak sadar akan membeli barang yang tidak dia butuhkan.

Malam tadi, gue datang ke kafe yang gak memperhatikan hal ini. Musik dari homebandnya keras, bukan genrenya keras kek underground atau metal, tapi suaranya keras, gue juga duduk dekat soundsystemnya sih. Dampaknya ya gue jadi gak nyaman berada di kafe tersebut.

3. Harga yang gak Sesuai
Soal harga mungkin jadi permasalahan yang jelas terpampang nyata kata Syahrini. Gue pernah datang ke kafe yang menakar kopi itam seharga 8.000, masih wajar dong walaupun sebenarnya kopi itam bisa didapatin 3.000 di warung kopi, trus juga ada Nasi Goreng Kampung seharga 17.000,00. Agak aneh juga sih ngebacanya, tapi ternyata gue gak salah baca. Gue itu dari kampung, jadi ya gak percaya aja nasi goreng kampung harganya segitu.

Gue pesan Coffemix seharga 12.000,00, gue berpikir dia akan meracik sendiri kopi itu, meskipun kalo ngeracik sedniri harganya lebih dari itu. Gue berpikiran kafe ini make jasa barista dan punya mesin kopi sendiri. Tapi ternyata enggak, dia cuma beli indocafe yang coffemix 3in1. Pas minum itu otak gue merespon “Kok, keknya gak asing sama minuman ini”.

Dan gue kecewa.

———

Oke.

Gue bukan juri yang ahli dalam bidang makanan, gue cuma bersuara sebagaimana konsumen yang ingin menjadi pelanggan. Tapi, kalo kenyamanan gue aja udah gak ada, gue gak akan mungkin jadi pelanggan. Memang sih ada dua tipe tujuan perusahaan: 1. Mencari pelanggan setia, 2. Mendapatkan keuntungan secepat- cepatnya tanpa menargetkan loyality konsumen.

Advertisements

12 thoughts on “Kafe Yang Baik #AlaWahyu

  1. Cafe di Pekanbaru rata-rata cozy tempatnya yah, Yu.. Tapi soal makanan ya standar aja sik.. ._.

    Btw, keknya kita ngga sempat kopdaran. Aku Rabu sore uda pulang. Lha ini jadwal penuh banget mau nemenin sepupu tes CPNS. In Shaa Allah abis sidang aku ke Pekanbaru lagi, beneran ketemuan yak :3

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s