Nyaman, katanya.

“Lo mau pacar yang kek mana sih?”

“Gue sih maunya yang mengerti, yang baik, yang perhatian, pokoknya bisa buat gue nyaman jalan sama dia”

“Oh yang bisa buat nyaman ya? Pacaran sama sofa aja, pasti nyaman.”

“Sofa? cewek mana tuh”

“Yang bilang cewek siapa? itu kursi diruang tamu”

“Kampret”

Banyak orang yang pengen nyaman sama sesuatu. Sama lingkungan, sama toko tempat dia membeli kebutuhan, di kampus, bahkan dalam urusan hati orang pengen yang nyaman. Nyaman selalu diindikasikan sebagai ‘sesuatu’ yang baik, indah, dan segar. Secara arti kata yang gue dapatin di http://artikata.com arti nyaman adalah segar; sehat: badannya berasa — disinari matahari pagi; 2 sedap; sejuk; enak: suaranya merdu, — didengar.

Gue juga gak tau mana yang benar.

Orang pengen punya partner atau pendamping yang bisa membuatnya nyaman untuk berdua. Gue bingung arti kata nyaman ini sampe batas mana. Kalo yang dimaksud nyaman adalah bisa berdua dengan orang yang disayang, berarti gak penting dong suatu status. Dan, dijadiin friendzone juga gpp dong, kan udah nyaman? Lagian difriendzonein kan lo tetap bisa dekat sama orang yang lo sayang, meskipun gak ada jadi pacar.

Jadi nyaman bukan berarti ‘bisa pergi berdua kemana – mana’ kan.

Otak gue pengen ngomong kalo nyaman itu ya udah bisa bersyukur sama nikmat yang diberikan Allah. Nyaman juga terkesan seperti ‘standar’ dari kehidupan seseorang. Orang yang biasa hidup distandar kehidupannya akan merasa hidupnya sudah cukup, cukup, dan enough. Banyak orang sukses dan menjadi kaya karena bisa keluar dari zona nyamannya.
lihat, masih banyak zona yang belum dinikmati orang yang ada dizona nyaman.

Nyaman = Standar.

Bagi gue nyaman juga gak selamanya baik. Misalnya aja, ketika rumah gue beserta isinya membuat gue betah dan ngerasa nyaman didalam rumah, gue jadi gak bersosialisasi, gue jadi gak tau masalah yang ada disekitar komplek, atau bahkan gue gak tau siapa nama tetangga depan-belakang-sampingkanan-sampingkiri. Ya, gue jadi orang malas karena ngerasa hidup gue udah nyaman, tentram, tapi gak mikirin orang lain.

Selalu ada – dan + dari sesuatu.

Kembali ke masalah hati.

Kalo orang hanya mau pacaran/nikah hanya dengan kata ‘bisa nyaman’, lalu setelah salah satu merasa tidak nyaman gimana? Apakah hubungannya akan hancur berantakan? atau apa?.

Gue pacaran sama Melly awalnya gak nyaman karena Melly cantik, sementara gue item, kurus, botak tipikal anak kelas satu sekolah teknik. Awalnya kita hanya dua orang yang saling sok tidak membutuhkan tapi akhirnya saling jatuh cinta. Gue sama Melly berawal dari teman, iya kita friendzone. Gue suka sama dia, tapi gue gak tau perasaannya ke gue. Karena gak mau dibilang ngarep, ya gue sok tidak membutuhkan dia aja.

Witing tresno jalaran soko kulino. Gue males ngomong kata itu sebenarnya, tapi gue sendiri nngerasainnya. Gue jalan sama dia nyaman, dia pun nyaman, butir – butir cinta pun jatuh. Kita jadian.

Setelah jadian, setahun dua tahun pacaran, nyaman gue terhadap Melly hilang, gue rasa dia juga gitu. Disitu gue berpikir berarti nyaman itu gak abadi. Menjalin hubungan itu gak jauh beda sama mengejar cita – cita dan sukses. Dibutuhkan pengorbanan, tangisan, ditolak orang, dan masalah internal lainnya seperti menyerah dan bosan.

Menjalin hubungan juga gak bisa selamanya nyaman, ya tadi itu “Nyaman itu gak abadi”. Karena itulah dibutuhkan keberanian untuk keluar dari ‘comfort zone’. Pacaran yang nyaman itu ketemuan-kencan-pulang-chatting-ketemuan. Nyaman banget kan, jadi serasa gak ada masalah dalam hubungan seperti itu.

Tapi apa itu tahan lama?

Percayalah, kalo lo udah merasa nyaman terhadap sesuatu dan lo gak ingin merubah itu, pasti akan ada saatnya lo merasa itu sangat membosankan.

Intinya, jangan pernah takut untuk mengorbankan sesuatu yang menurutmu berharga karena itu akan diambil sama Allah juga, jangan pernah ragu untuk menangis karena hanya tangisan air mata yang bisa peka terhadap masalahmu, jangan pernah menyerah apalagi bosan meskipun sudah banyak orang yang tidak mempercayaimu dan menolak ide/perasaan milikmu.

Selalu ingat “Ini belum waktunya”.

Advertisements

28 thoughts on “Nyaman, katanya.

  1. nah, gue setuju juga tuh. sebenernya definisi nyaman itu apaan sih??

    gue sendiri juga masih bngung. dan emang bner juga sih mnurut lo. klo friendzone udah nyaman, trus buat apa pacaran? yah, kembali lgi ke individunya masing” sih. terkadang manusia sering kalah dengan hawa nafsunya. gue juga sering sih. tapi yaah… ga usah pacaran lah. yg penting temen cewe gue banyak, dan mereka nyaman sama gue. oke, ini agak maksa sih

  2. NGomong soal nyaman emang harus utama banget dalam hubungan, lagian udah cocok tapi bilang gak nyaman namanya gak cocokkan.

    Pada dasarnya, semua hal perlu kepercayaan dan kenyamanan. Waduhhh, agak typo dikit ya.. ‘Mengingatkan’

  3. Menikmati kenyamanan gak akan bikin kita tau warna kehidupan lainnya.
    Hidup terlalu hitam-putih buat orang-orang yang gak berani keluar dari zona nyaman.

  4. Kata nyaman secara hati emang gak bakal sesuai sama yang di kamus. ‘Menyejukkan hati’ juga aneh kalo melihat arti sejuk yang sesungguhnya. Hati di dalam tubuh dan suhu tubuh jauh dari pengertian sejuk itu sendiri.

    Sori nih agak nggak nyambung, abis liat gambar zona-zona itu, gua jadi ngerasa saat ini di ‘comfort zone’. Gua tau itu ga bagus. Biar keluar dari comfort zone tapi tetap ‘nyaman’ gimana, ya?

  5. Mantan ku nyaman sama aku Yu, makanya dia minta balikan. Aku jugak nyaman sama dia. Tapi aku gantungin perasaannya. Bahahah.. 😀 *ketawa setan*

    Apa ya.. Nyaman itu bakalan memudar dengan sendirinya.. Namanya jugak manusia, selalu berubah kan yak :’)

  6. Kadang kita memang harus keluar dari zona nyaman kita sih, Yu. Supaya hidup kita lebih berasa beda. Kalau nyaman dalam pacaran, menurut aku, kita baru boleh bilang nyaman kalau kita sudah tidak sungkan-sungkan lagi bercerita panjang lebar sama pasangan, tidak lagi jaim-jaiman sama pasangan. Menurut aku sih gitu.

    Oh iya, polbeek dong kakaaaaak 😀

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s