Sejarah Mungkin Berubah

Gue bisa bilang, diurutan keluarga emak sama bapak gue, cuman gue yang ngerti dan update soal teknologi. Ini serius, rata – rata keluarga gue itu “Kuno” soal media sosial maupun internet. Jangankan internet, laptop aja hanya beberapa dari keluarga gue yang ngerti.

ALhamdulillah, gue dikasi kesempatan untuk mengerti ini.

Awal 2009 gue “galau” nentuin gue mau masuk mana setelah lulus dari SMP. Abang gue, udah duluan masuk di SMA yang gue mau, dan gue males banget satu sekolah. Takut pacarnya Wiji nyangka gue itu Wiji. Enggak sih, takut aja diledekin dengan dibilang “Iyalah bisa masuk, kan abangnya juga sekolah disini”, gak enak banget.

Karena alasan yang gak masuk akal itu, gue memutuskan untuk “Ikut – ikutan” ngedaftar disekolah yang temen gue anjurkan. Namanya Syukri. Kenapa gue ikut – ikutan? Orang tua gue gak mentingin gue mau sekolah dimana, yang penting guenya enjoy. Pernah sih gue mintak, gue pengen masuk SMK tata boga, tapi gak dibolehin, karena kalau mau buat kue, belajar sama emak aja. Akhirnya gue milih jurusan “Komputer dan Teknik Jaringan” di SMK nomor satu di kota gue. Karena memang cuman ada satu.

Ironisnya, Syukri gak jebol di Teknik Mesin. Dan gue berkelana sendirian disana, belum ada orang yang gue kenal. Komputer? Heh, gue sama sekali gak ngerti itu, apalagi jaringan. Kelas tiga SMP gue pernah dapat tugas untuk ngirim email, subyek “Bagaimana cara mengirim email melalui handphone?”. Setengah mati gue cari caranya gimana untuk ngirim itu lewat handphone, gak bisa – bisa. Ternyata cuma disuruh nyari artikel, kirim lewat body email. Itu pun yang ngirim bukan gue, temen gue.

Iya, gue norak banget (dulu).

Setahun di jurusan TKJ gue masih gak ngeh apa yang gue pelajari. Byte lah, Instalasi Windows, cara membaca bilangan Biner (10010101 : Angkanya seperti ini, cuma ada angka 1 dan 0, bisa dibaca jika benar. Kalo yang gue tulis gak ada bacaannya) dan masih sederet lagi hal yang imposible untuk gue pahami.

Bayangin aja, ketika gue ditanya pas mau masuk jurusan ini “Udah berapa lama bergaul dengan komputer?” gue jawab “Baru setahun ini pak, itu pun punya tetangga, soalnya rumah saya gak ada listrik”. Yaiyalah, dikampung itu belum ada listrik, pake diesel, sampe sekarang. Gurunya geleng – geleng kepala ngedengar gue ngomong.

Tapi sekarang beda. Gue udah bisa nyanyi lagunya Astrid “Lihat aku sekarang, begitu mudahnya orang bilaaaang ….”

Sekarang gue udah lumayan dibandingkan zaman dulu. Sekarang gue cuma bisa mesem ketika ngeliat saudara gue yang mamerin smartphone tapi KW, gue tau jauh dari harapan itu asli. Tapi mereka bangga, karena mereka gak tau.

Sejarah mungkin berubah.

Kita bisa merubah sejarah tiap detiknya. Ada saja perubahan yang pasti kita alami setiap saat. Kebanyakan mungkin hanya menganggap itu situasi biasa yang memang dijalani. Tapi itu sebenarnya perubahan. Memang tidak terlihat saat sejarah itu berubah, tapi untuk kedepannya.

Gue juga masih perlu banyak belajar. Mungkin sekarang gue berada masih diatas saudara gue soal teknologi, tapi gue gak akan pernah tau, kalau anak dari sepupu gue yang menikah nantinya bisa juga menyaingi gue.

Jadi, intinya “Kita sejatinya akan merubah sejarah pribadi kita. Tapi tetaplah untuk belajar”

4 Menit kemudian…..

Aduh, Om Mario Teguh barusan menghipnotis gue. Apa yang terjadi ya barusan, dengan sugesti om Mario??

Advertisements

2 thoughts on “Sejarah Mungkin Berubah

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s