Untukmu Ibu

Kulihat senja selalu saja setia dengan jingganya. persis seperti ibu yang setia dengan kasih sayangnya. merangkulku saat aku sedih, ataupun senang. Kadang aku sendiri yang lupa merangkulnya, lupa memberikan kasih sayang untuknya. bukan malu, hanya sedikit enggan.

Malam – malamnya selalu menasehatiku, “Nak jangan tidur malam, nanti bangunnya kesiangan” atau “Nak, belajarlah. walau besok gak ujian”. gak pernah terlupa untuk memberikan motivasi untukku, motivasi untuk membuat ku tetap berada dititik aman, titik nyaman, dia (ibu) tidak mau aku terjatuh sampai mengalami nasib sepertinya. miskin.

Disaat embun mulai meniduri daun, dia sudah terbangun, dengan kain lusuh dibadannya, menyiapkan makanan untuk ku (dulu), namun terkadang aku lupa menikmati itu, jangankan itu, mengucapkan “Terimaksih mak, udah buatin makanan” aku hampir lupa, lebih tepatnya aku lupa.

Kulihat senja dimatanya, sayu, tapi tetap senyum. melihat kepergianku ke sekolah, melambaikan tangannya. Ah, itu kurindu masa ini. saat aku harus mencari ilmu dan tinggal jauhd dengannya.

Jujur ku akui, kadang aku durhaka kepadanya. secara fisik, aku memang tidak melawannya, tidak membentaknya, tapi perubahan kecil yang tak mengindahkannya, menolak secara halus perintahnya, menolak secara lembut pintanya. itu sudah durhaka kecil yang aku lakukan.

Aku durhaka kan?

Ya, aku memang durhaka. memang tidak mengerti kesalahan kecil yang aku lakukan, yang akhirnya berdampak besar, menyakiti perasaannya, namun Ibu, tak pernah memperlihatkannya. Jangankan untuk memperlihatkannya, raut wajahnya saja tak berubah sedikit pun. air keringatnya, cara senyumnya. Dia tetap baik, bahkan terbaik.

Kasihnya saja lebih dari kasih yang aku kasi kepada mu kekasih. Aku ingin sepertinya, memberi tanpa meminta, tersenyum walau bersedih. Aku ingin kau seperti itu, calon istriku.

Dosa – dosaku selalu ada untuknya. lupa mengabarinya. astaga, aku baru ingat sekarang. ternyata aku memang berdosa. maafkan aku ya Allah. Astagfirullah. Ampuni aku.

Ibu,
Wajah sendumu, aku rindu

Ibu,
Sinar matamu, sejuta gelap tanpanya.
Ribut suaramu, adalah suara paling merdu didunia

Ibu.
Maafkan aku, sedihmu adalah dosaku
air matamu, bukti aku durhaka

masih adakah namaku dalam doamu ibu.

Maafkan aku,
Anakmu,
ini, untukmu..

IBU.

Advertisements

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s