Serba - Serbi

Hujan Tanpa Nama

            Bau dingin yang menjelma sesaat, hadir lagi, lalu kembali menyejukkan raga dari teriknya mentari siang. Seorang wanita muda tampak sedang menikmati sore yang ditemani oleh guyuran hujan diberanda rumahnya. segelas teh hangat dan beberapa potong tempe goreng yang masih mengeluarkan asap, sangat nikmat dinikmati disuasana seperti ini.

Meja yang tak tau entah berapa kali sudah diketuk pelan oleh wanita itu, dari cara melihatnya, cara duduknya, jelas tergambar bahwa dia sedang bingung, atau dia sedang mencoba kembali mengingat masa yang tak ingin dia ingat.

1 tahun silam, suasana seperti ini. adalah suasana yang dia cinta. Karena hujan, membuatnya tak bisa berkata lain, selain kata yang kaluar karena satu hal, cinta.

“Kamu yakin mau tetap pergi? mau hujan loh sayang?”

Fira menoleh, membuka mata dengan seribu pertanyaan kearah lelaki didepannya, yang sebelumnya berkata, bahwa dia ingin pergi ke toko buku untuk bertemu dengan salah satu penulis yang novelnya best seller.

“Takutnya gagal semua sebelum sampai disana” tambahnya lagi

“Iya sih. Cuacanya gini banget.” Aldar menundukkan kepalanya, melihat arlojinya di pergelangan tangan kirinya, waktu sudah menunjukkan saat dimulainya talkshow. Sudah pasti dia akan terlambat. Sangat terlambat. Dengan jarak yang hampir mencapai 7 km itu, bagaimana dia bisa mengambil kembali moment yang hilang di Gramedia.

“Kamu gak kenapa – napa kan hujan – hujanan?”

Fira membenarkan ucapan Aldar, dalam hatinya berbisik, ada sikap terlalu ambisius dari Aldar untuk bertemu penulis itu. Memang, ini kali pertama penulis itu datang ke Pekanbaru, tapi apakah begini yang harus dilakukan, dengan modal motor dan mantel yang hanya bisa dipakai satu orang, hanya untuk foto bareng dan sign penulis itu, harus melewatkan hujan yang rintik tak kunjung henti.

“Yaudah kita pergi, hujannya gak akan berhenti. tapi kita coba”

Fira mengangguk pelan. Mengambil mantel yang telah dibawa Aldar, memakainya, sedangkan Aldar memakai jaket kampusnya, yang terbuat dari bahan parasut, bisa dibilang sedikit menyerupai fungsi dari jas hujan, namun tidak menutupi bagian bawahnya. Hanya sampai pinggang.

Hujan tak pernah tau, siapa yang membencinya, siapa yang menyukainya. Dia akan terus turun sampai dia lelah, lalu, berhenti. Tak perduli orang akan berbicara apa tentang dirinya, yang dia tau adalah, tugasnya sudah selesai.

1 km dari rumah Fira dijalan Soebrantas, celana Aldar sudah basah karena tidak tertutupi mantel ataupun jaket yang dia kenakan. Sementara Fira, yang memakai mantel dibelakang tak berkomentar apapun, hanya memeluk Aldar dari belakang, dan mengikuti keinginan Aldar.

“Sayang, kamu bener mau lanjut ke Gramedia? Celana kamu udah basah banget loh?”

Aldar mengendurkan gas motornya, kemudian dia menepi, dan masuk keareal Pertamina di Jl. Soekarno Hatta, berhenti di pengisian Pertamax, tampak juga ada beberapa orang yang berdiri dipinggiran Toko Roti yang ada diareal ini. mereka berbincang layaknya saling akrab. Tapi siapa tau kalau mereka baru saja berkenalan. Who know

Kembali melihat jam dipergelangan tangan kirinya, sesaat kemudian melihat langit hitam dengan ribuan air yang terbuang, menahan kecewa, sedih, dan sia – sia saja ini semua. Tampang yang sangat mudah ditebak, dari belakang Fira menyapanya.

“Sayang.. sabar ya, lain kali kan bisa.”

“Iya.” Dengan helaan nafas yang panjang nan berat, Aldar harus mengiklaskan kegagalannya ini. kegagalan bertemu dan meminta tanda tangan salah satu penulis novel best seller. “Makan yuk.. gak akan reda juga hujannya. Jarak masih jauh, kita pulang aja”

“Kamu yakin?”

Senyuman khas yang ramah dari Aldar mampu kembali meyakinkan Fira, bahwa, semua baik – baik saja. Tapi Fira tak akan tau, kalau hari ini, sore ini, Aldar sangat kecewa. Aldar orang yang mampu menyembunyikan kecewa, dalam raut wajah yang biasa, yang bersikap fana.

“Kak, gak masuk, udah mau magrib.”

Fira menoleh kearah kiri. Ibunya sudah berdiri disana, sambil melihat kearah hujan yang tak kunjung henti, dengan tangan kirinya memegan sudut kursi.

“Eh..” Fira tersadar dari lamunannya, sejak kapan ibunya ada disampingnya. Padahal dia merasa dari tadi dia sedang merenung sendiri “Ibu kenapa keluar?”

“ Kalo ngelihat hujan, ibu jadi keinget Aldar, kalian sering banget pulang kuliah hujan – hujan gini dulu” ucapnya, sambil matanya menerobos tiap celah air hujan yang menyejukkan itu.

“bu..” desahan lembut Fira, kesedihan kembali ada didalam kata itu “gak harus diingat bu, semuanya juga udah berlalu..”

Rambut Fira dielus lembut dengan tangan wanita yang sudah duduk disebelahnya, “Sabar ya nak, Aldar udah bahagia disana,”

“Iya bu..” Fira melanjutkan kata – katanya “Ibu masuk duluan sana, siapin makanan untuk bapak”

Wanita tua disebelahnya berdiri, kembali, tangan lembutnya mengelus kepala Fira, dengan lembut juga, lalu masuk rumah. Wajahnya hanya bisa memancarkan senyum semangat untuk anaknya yang masih setia menunggu hujan reda. Hujan yang pernah membuatnya senang, dan bahagia, tapi sekarang hanya ada hujan yang tak memiliki nama.

Hujan tanpa nama

Lihatlah, bukan hanya aku yang merindukanmu, bahkan ibuku, yang kau bilang begitu cuek denganmu, merasa sepi tanpa hadirnya dirimu, tanpa hadirnya kita dengan baju yang tak lagi kering, baju yang sudah transparan karena air hujan yang tak bisa ditahan. Ibu merindukan kita yang sering berkata tak jelas karena kedinginan, melihat kita sedang tertawa dalam tubuh yang menggigil, lalu tersenyum, melihat kita, melihat kita, tertawa bersama.

Bukan aku saja yang merindukan itu Aldar, tapi ibu juga.

Setelah kecelakaan itu, kau pergi meninggalkanku untuk selamanya, gak mudah untuk ikhlasin itu semua, ikhlasin kenangan yang udah kita gambar diatas kertas yang tak berukuran, kita belum selesai melukisnya, tapi kau malah pergi begitu saja, membiarkan aku melukisnya sendiri.

Aku ingat terakhir kali aku mengunjungi tempat terakhirmu, yang sekarang hanya ada gundukan dengan tanah merah yang ditumbuhi rumput liar, dengan papan yang menancap rapi disana, bertuliskan namamu. Aku menangis sebisanya, aku masih tak mengira itu tempat tinggal terakhirmu. Tapi, itu memang tempat tinggal terakhirmu.

Disana, aku pernah berjanji, suatu saat nanti, aku akan kembali dengan seorang laki – laki yang berdiri disebelahku, dan seorang malaikat kecil yang menggenggam erat tanganku. Mereka akan menemaniku untuk menjengukmu. Bukan maksudnya aku ingin memamerkan kebahagianku, bukan, aku hanya ingin kau tau, hanya ingin kau mengerti, bahwa aku sudah bahagia. Dan kau disana, tak perlu lagi mengkhawatirkan ku.

Kau memang sudah tak ada lagi bersamaku, tapi, kenanganmu ada dipikiranku, dan bagi dunia khayalku, kau ada disetiap celah rintik hujan, atau bisa saja kau hadir dalam bentuk hujan. Iya, hujan tanpa nama.

Awan sudah sangat kelam, dan langit mulai menghitam, rintik hujan masih bersambung. Fira merapikan cemilannya diatas meja, kemudian mengangkatnya, lalu masuk kedalam rumah. Sebelum menutup pintu, dia mengucapkan salam perpisahan untuk hujan, dan berjanji, bahwa mereka akan kembali bertemu disini, diberanda rumahnya, dengan teh hangat dan cemilan lainnya.

Advertisements

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s