Tahun 2000an? nyiksa atau maksa?

mau ceramah sebentar.

Tadi, kurang lebih 5 jam yang lalu. gue tidak mengindahkan ocehan salah satu temen gue yang gendut, muka bulet, udah kayak Giant makan bakpao, tapi sekarang, sepertinya gue perlu mempertimbangkan itu lagi. celetukan yang asal keluar begitu saja, tapi benar.

kita lagi dengerin dosen jelasin tentang siapa saja yang mempengaruhi perubahan tujuan perusahaan, mata kuliah manajemen sumber daya manusia. saat dosen itu meengatakan “kalian sekarang udah enak, kalo ngetik, tinggal dilaptop, bisa dibawa kemana -mana, dan praktis” trus temen disebelah gue yang gendut itu ngomong “Yu, trus kalo orang jaman 90an kek ibuk itu, ngetik skripsi pake apa? bukannya kalo pake mesin ketik, salah satu huruf harus ganti kertas dan ulang lagi.?” gue masih gak mikirin dan bawa ketawa “Haha, iya itu Ian, mungkin.”

namanya Rian, bukan Giant.

yap. disini permasalahannya, gue selalu telat untuk mengambil kesimpulan (bukannya bagus, dibandingkan terlalu cepat ngambil keputusan). bukan gitu maksud gue, maksud gue itu gini, gue itu telat untuk mencerna suatu permasalahan. (bukannya sama aja ya Yu, lo lagi ngantuk, apa lagi mabok?). aduh gimana ya jelasinnya, yang penting, gue itu kurang lihai untuk melihat dan memberi opini terhadap sesuatu yang gak gue cetuskan dari mulut gue.

*Nyeduh kopi dulu*

oke kita lanjutin.

gini loh. dalam diri kita itu sebenarnya ada hormon untuk merespon suatu permasalahan. terserah sumbernya dari mana, mau dari temen lo, dari pacar lo, dari toilet, dari mana aja. tapi kita menganggapnya itu biasa. sangat biasa. kita tidak mencerna lagi (yaiyalah, gak mungkin yang ditoilet dicerna) omongan yang asal nyeletuk itu “ah, itu kana asal omong aja” itu kan yang sering terjadi.

paragraf barusan diatas, gue gak ngerti nulis apa.

misalnya gini “eh Yu, Jerapah itu lehernya tinggi ya”

lo pasti bakal mikir “Iya hahaha..” padahal sebenarnya kan leher jerapah itu panjang, karena dia berdiri makanya dia kelihatan tinggi. ya kan. ngerti ? kalo enggak, yaudah gpp.

balik ke mesin ketik tadi deh.

karena celetuk Rian tadi, gue jadi ngebayangin hidup ditahun yang masih berkembang, masih mencari hal – hal baru. tahun millenium bukan sih tahun 90an itu ? dan dibandingkan dengan sekarang, serba instan, praktis, dan menghemat (waktu, biaya, dan sabun). jadi, gimana orang – orang itu buat skripsi?

gue juga gak tau gimana, dan disilsilah keluarga gue, gak ada yang kuliah zaman itu. keluarga gue bisa dibilang bisa sekolah sampe SMP aja itu sukur banget. dan orang tua gue sendiri, baru kuliah saat gue SMA. saking gak ada biayanya. sorry jadi curhat. (kan memang curhat bangke)

*Cangcimen cangcimen*

Kenapa ada orang jualan sih ?

gue gak bisa ngebayangin gimana sih orang hidup dizaman sebelum gue terlahir (brojol aja nape), yang bisa gue lihat dari orang tua gue itu banyak. dan yang paling dominan adalah, mereka terampil, jadi tukang bisa, buat mainan oke, keterampilannya keren (dilihat berdasarkan kacamata gue, orang – orang ditempat gue pinter bikin tikar dari pandan.) dan yang paling penting, mereka sepertinya terlihat tak pernah putus asa.

coba sekarang kita bandingkan sama kehidupan kita. kehidupan dizaman 2000an.

anak – anak bukannya belajar untuk terampil, mereka malah alay, mengupload foto najis bin mukhalajoh, joget gak jelas setiap pagi dan malam, sampe rumah bukannya salam sama ortu, malah lewat didepan orang tuanya tanpa permisi. beberapa riset dari temen – temen gue.

keterampilan, dan ketelitian.

kita kembali ke mesin tik (laptop zaman ini gak ada, sorry ya acara di Trans 7). gue salah satu orang yang pernah menggunakan mesin tik ini. kelas 5 (ya, gue masih ingat) gue bangga banget menggunakan ini, gue bangga menenteng koper yang berisikan mesin tik (karena keliatan kek koper orang kaya, yang isinya bra, eh duit). gue bangga banget, padahal beratnya itu, naudzubilah, lebih berat dari beban anak alay.

*Buka baju dulu, punggung mulai keringetan*

ketelitian kita itu sekarang gak ada. coba belajar dimesin tik, gak ada tombol backspace atau delete, kalau mau terhapus ya ganti kertas baru. ketelitian lo semua diuji disana (uji tanpa nyali). lo gak akan kenal dengan istilah Typo (kudet banget kalo lo gak tau apa ini). kesabaran satu lagi, kalo udah sampai di ujung kanan kertas, lo gak bisa langsung enter, lo harus gerakin (apa itu namanya) penjepit kertas yang nantinya kalo lo nekan tombol, nanti akan ada besi yang mengarah ke kertas. gue juga lupa, udah sekitar 8 tahun yang lalu terakhir gue make mesin tik.

ya, kita sekarang hidup dizaman yang sangat praktis, zaman yang membuat kita menyepelekan sesuatu, zaman yang membuat kita tak bisa mikir apa dan kenapa, sebab dan akibat, yang berlalu ya berlalu, buat apa dipikirin. kita secara garis besar menghindari untuk berpikir “kan ada yang lebih praktis, ngapain dipikirin”. keterampilan kita hilang, ketelitian kita hilang. kita hanya berharap pada mesin, mesin dan mesin.

dengan jumlah kelahiran penduduk yang makin banyak, kematian yang di KBin jadinya sedikit. kita jadi gak kreatif, kita, orang – orang yang terlahir dizaman 2000.

gue cuman takut, kita hanya bisa melihat robot bekerja, dibayar mahal, tapi kita tidur, dan menungggu ajal.

ceramah selesai, dan kita merenung. mau jadi apa kita ?

Advertisements

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s