Ketika bunga menjadi pedang

berjalan diatas pasir dengan tekanan kuat hanya akan membuat kakimu berpasir. berjalan diatas pecahan kaca, hanya akan membuat kakinya berdarah, berjalan diatas kenangan masa lalu, hanya akan membuat dirimu mengabaikan keadaan sekitar yang lebih indah dan asri dari masa lalumu.

bunga merah indah itu menghitam karena sengatan matahari yang panas, dan membakar. luka yang kembali ditetesi air garam, terasa begitu pedih, sampai bibir ini harus tergigit. sampai akhirnya kita sadar, bunga itu ternyata berubah menjadi pedang, menyakitkan, dan tajam.

huru hara perasaan yang tak terkendali, dalam sengitnya persaingan hati, berjalan pelan diatas garis hitam dan putih yang tersusun rapi diatas jalanan kota. panas, dan pedih.

ketika bunga menjadi pedang, hanya ada sisa sayatan yang mendalam, tanpa tau asal dan mulanya dari mana, dan siapa yang melukainya. hanya bekas goresan pedang.

tapi sesungguhnya semua itu hanya fatamorgana, karena hati kita sedang terjangkit luka, yang membuatnya harus berkhayal jauh diambang pemikirannya. itu benar, itu asli.

ketika bunga menjadi pedang, lalu apa yang akan kau banggakan dari bunga?

bayangkan jika bunga hanya menjadi hiasan ditepi – tepi hatimu yang terluka, tanpa obatan, tanpa racikan, yang meredakan luka itu sendiri. hanya secuil hiasan dinding.

ketika bunga menjadi pedang.

lupakanlah.

Advertisements

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s