Serba - Serbi

Mata yang tak lagi memandang

Disudut gelap kamar yang tertutup rapat, kain gorden yang terbuka sedikit, udara yang masuk pelan menghembuskannya. dia membiarkan suasana itu untuk membuat dirinya tak terganggu oleh orang yang akan memanggilnya. orang yang tak ingin ditemuinya untuk beberapa saat ini, saat hatinya baru saja terluka.

Kemarin, tepat ketika semua yang dia banggakan baru saja berakhir. kata yang tak pernah diinginkan, terucap dari mulut orang yang dia pikir menyayanginya. Gelap tiba – tiba saja mencekam, dan dia terjebak didalamnya, dengan cahaya yang sudah redup karenanya.

“Kenapa kamu gak pergi saja Far? cari kegiatan yang bisa buat kamu gak mikirin dia”

Farah mendengus perlahan, udara yang dia keluarkan terasa hangat di bibirnya, “gimana aku bisa pergi, jika hati ini selalu memintaku untuk mengingatnya”

Cahaya matahari yang mulai meninggi, membuat Farah memicingkan sedikit matanya, saat mendongkakkan kepala, menghirup udara segar panjang, dan menghembuskannya kembali dengan panjang. bukan perkara mudah untuk melupakan mata yang memandang sendu nan mesra.

Obrolan dengan Fira barusan, hanya membuatnya memiliki teman sementara, setelah Fira kembali untuk menjalani rutinitasnya, hanya kata gelap yang ada dibayangannya. bukan karena dia tak memiliki seseorang lain untuk menghiburnya, hanya saja, banyak yang tak dipercayakan untuk bisa menghiburnya.

Luka yang baru saja dilukis dengan pola yang tidak jelas, kembali tergores ketika pikiran itu menuju orang yang melukis luka itu.

“Fir, kenapa sih aku belum bisa ngelupain dia?”

“Hanya masalah waktu” Fira menggigit roti tawar yang baru saja dia oleskan susu dan mesis. “Tadi kan udah aku bilang, cari kegiatan baru, biar pikiran kamu gak terfokus ke dia”

“Jika waktu tak bisa menjawab?”

“Berarti hatimu masih menginginkannya”

Masalah waktu, berapa waktu yang harus Farah tunggu, supaya bayang – bayang ini memudar, dan tenggelam di gelapnya ruangan tanpa cahaya, hilang tanpa bekas, dan tidak pernah kembali lagi. jika memang ini hanya soal ‘waktu’, semoga itu benar adanya.

Teh yang baru saja diseduh, dengan gula yang tak begitu banyak. sesuai dengan keadaan hatinya sekarang, yang sedang bimbang antara sakit ataupun senang. sakit karena dia tak lagi bersama dengan orang yang dia cinta, dan senang karena masih ada Fira menemaninya, meski sebentar saja.

“Jika dia meminta ku kembali, dan aku menerimanya, apakah aku salah Fir?”

“ck ck ck” Fira berdecak, sambil menahan tawa kecil dibalik lidahnya “Gak ada yang bisa disalahkan dari keputusan karena cinta, jika memang itu yang kamu mau, kenapa kamu harus bertanya?”

“Ya, aku takut saja itu terulang kembali”

“Jika kau takut itu terulang kembali, jangan kau ulangi lagi hubungan itu”

Anak – anak usia taman kanak – kanak tampak sedang bermain dengan gembira, tanpa urusan, tanpa aturan, dan tanpa pengawasan. dunia milik mereka, dan mereka harus menggunakannya, tanpa berpikir apapun yang bisa mengganggu mereka, yang penting, ketika mereka bermain, itulah dunia mereka.

Tak jauh dari sana. Fira dan Farah sedang menikmati secangkir teh hangat yang agak hambar, dengan roti tawar.

Mata yang tak lagi memandang kepada luka yang kian memudar, cinta yang mulai bergeser karena tergerus waktu yang tak sabar, dan hati yang kembali bersinar, meski ada setitik gelap didalamnya yang membuat lubang. semua hanya akan sementara, dan pasti akan berlalu, dengan waktu sebagai pemisah dan penyatu.

Advertisements

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s