Lumpuhkan Ingatanku

“kenapa kau tak pernah pergi? kenapa kau selalu disini? kenapa? kenapa disaat kau telah menyakitiku, kau malah tak menjauh dariku?” Aku memukul meja dihadapanku, teman – temanku sekelas memperhatikanku. lalu tiga orang temanku, teman akrab lebih tepatnya. mereka mengambil kursi lalu meletakkannya didekatku.

“Ta lo kenapa?”

“Dido..” kataku lemah

mendengar itu sepertinya temanku tak suka. “udahlah Ta,!! kenapa sih lo masih mikirin dia, lo jadi drop gini, jadi kek orang gila gini, ini bukan diri lo Ta” bentak dinda. suaranya keras, namun aku tau itu karena ia tak ingin melihatku seperti ini lagi.

“Gue gak tau..” aku mnejawab degnan suara sangat lemah, selemah suara kucing kelaparan

“Dia udah nyakitin lo, dan lo gak pantes nangisin dia, lo harus tegar” suara Dinda sudah sedikit lembut

“iya Ta..” Meza dan Rizka menyahut, tangan mereka merangkul pundakku, memeberiku ketenangan.

ini aku, Gista. orang yang selalu ceria, dengan segala canda, meskipun sedang tak ada dana, yangpenting harus tertawa. dan yang lebih penting, aku terkenal ceria.

aku baru putus dengan pacaru, Dido. kami sudah pacaran sejak SMP, kelas dua SMP, pertengahan semester.kami selalu bersama dulu, tapi tidak dengan sekarang, karena kami sekarang sudah berbeda sekolah.dan semenjak kami berpisah sekolah, Dido berubah. dia jarang menghubungiku, dan aku merasa dia seakan menjauhiku.

dia berubah menurutku

seminggu lalu kami ertengkar hebat. aku melihatnya bersama wanita lain disalah satu pusat perbelanjaan. dia begitu mesra dengan wanita itu. bagaimana ia mengusap kepalanya, merangkulnya, dan memperlakukan wanita itu dengan begitu nyaman. nyaman sekali.

hubungan kami yang bisa dianggap sudah lama membuat aku mengenal keluarganya. tapi belum keluarga besarnya. aku kenal adik perempuannya, adik perempuannya masih kelas 5SD dan dia juga mengenalku. tapi yang kulihat waktu itu bukanlah adikny. bukan. Ya, itu bukan adiknya.

setelah hari itu, aku mencoba bertanya siapa sebenarnya wanita itu?

Namun setiap aku bertanya, bukan jawaban yang aku dapat, bukan penjelasan yang aku dengar, dia malah menuduhku.

“Jadi kamu gak percaya lagi sama ku Ta?” Dido melotot didepan wajahku “Dia bukan siapa – siapa aku Ta!! kami hanya sahabatan” dia memberiku penjelasan yang sama sekali tak ingin aku dengar.

aku tak mengharapkan jawaban itu. aku leibih mengharapkan ia meminta maaf. aku tak mempermasalakan dia ma pergi dengan siapa saja. tapi aku ingin dia memberitahuku dahlu.

aku hanya ingin tahu dia pergi kemana? dengan siapa? dan kapan?.aku tak ingin banyak menuntut, sungguh. itu bukan tipeku, karena aku tak ingin dituntut juga.

bukankah semua yang kita lakuin akan berbalik kediri kita sendiri, baik buruknya. meski balasan itu datang dari orang yang berbeda.?

itu yag disebut karma

“Gue belum bisa lupain dia” aktaku kepada Dinda

iya Ta, tapi lo gak harus gini juga”

aku mengangguk, kemudian secara bersamaan mereka memelukku. dan menutupi isak tangisku

aku bersyukur sekali ada orang – orang yang mau berada di sisiku, saat aku sedang terpuruk. sedang hilang acuan, dan tak tau jalan pulang.

‘aku tejatuh dan tak bisa bangkit lagi’
bakcsound – butiran debu

bel pulang sekolah berbunyi. aku merapikan buku – buku dimejaku, dan memasukkannya kedalam tas. kelasku melewati mading sekolah. yang menampilkan puisi – puisi karya siwa disini, ajang perlombaan.

sudah seminggu Dido kembali menghantui pikiranku, aku tak tahan. tapi terkadang aku juga senang. terbeih jika aku mengingat kejadian yang membuat kami tertawa bersama.

“tapi bukan ini yang gue mau. gue gak mau lagi ingat sama lo. gue benci lo. gue benci” aku melempar foto yang dari tadi ku pegang. foto yang dibingkai rapi. foto Dido, aku masih menyimpannya.

aku membaringkan tubuhku, menikmati setiap kelembutan yang diberikan bantal dikasur ini.menimatinya hingga aku tenang, hingga emosiku bisa teredam

air mataku mulai mengalir kembali. kelopak mataku tak mampu menahannya, jangankan kelopak mataku, hatiku saja tak mampu.

jika aku sebuah sistem yang terkomputerisasi, aku ingin semua program ingatan yang menempel diotakku segera direset ulang, hingga aku tak memiliki sedikitpun memori tentangnya, tentang kenganan aku dan dia.

lumpuhkan ingatanku, hapuskan tentang dia
hapuskan memoryku tentangnya
hilangkan ingatanku,jika itu tentang dia
kuingin melupakannya

geisha memang sangat ppintar mengejekku dengan lagunya. entah dari mana mereka belajar membaca pikirin orang yang sedang tersakiti oleh panah cinta yang beracun.oh geisha, berikan aku kekuatan dengan lagumu yang begitu mudah mempengaruhiku.

dengan berakhirnya lagu ini, aku yakin pikiranku sudah direset ulang.

Advertisements

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s