Serba - Serbi

More Than This

Hari ini tingkah Melly gak seperti biasanya.

Dia yang biasanya cerewet, supel, dan gak bisa diam sekarang berubah 100 persen menjadi orang yang pendiam, ngomong kalo perlu. Gue yakin dia lagi ada masalah.

Setelah dia pulang dari tempat orang tuanya dia malah jadi pendiam. Padahal biasanya seribu cerita akan dia ceritain sama gue. yang disana dia jagain toko mamanya, masak sendiri, dan gak bisa molor. Dan masih banyak lagi cerita yang akan dia ceritakan.

‘sayang aku boleh ngomong sesuatu gak. Ini tentang hubungan kita’ ujarnya. Dan gue liat matanya berkaca kaca.

‘iya.. mau ngomong apa sayang’

‘jangan marah ya’

‘iya aku gak marah, aku janji’

‘orang tua aku mulai gak percaya kamu akan baik sama mereka kalo kita nikah. Karena kamu sewaktu pacaran itu kata
mereka kamu pelit’ katanya lagi

‘huuh’ gue menghela nafas

‘kan kemren waktu kamu kerumah, papa aku mau minjam motor terus gak kamu pinjamin. Sejak itu mereka merasa ragu’ tambahnya lagi

‘tapi kan sama kamu aku gak pelit’

‘iya.. aku tau. Sama aku kamu baik kok, kamu sering ngajak aku makan, belanja, terus jalan jalan. Tapi kan ini orang tua aku.

‘sayang.. kan kamu juga tau, kemaren itu motor aku lagi rusak. Aku gak mau papa kamu nantinya ndorong dijalan. Kan gak semua kendaraan cocok sama orang baru’

‘aku tau sayang. Aku tau. Tapi papa aku gak nganggap gitu’

‘terus’

‘papa aku nganggap kamu itu cuman baik sama aku.’

‘sama adik kamu juga baik kok’

‘iya sih. Mama aku nganggap ini biasa aja. Tapi papa aku nganggap ini berlebihan. Katanya nanti kalo kita nikah kamu bakalan lupa sama mertua.’

‘astagfirullah. Papa kamu kenapa sih sayang. Aku gak sejahat itu lagi’

‘iya aku tau. kamu aslinya baik. Cuman belum bisa dekat dengan orang tua aku aja. Iya kan.’

‘iyaa’

Pembicaraan kami pun telah ngebuat Melly menangis. Gue. gue sedih banget dengan cara berpikir papanya Melly.

Dipelukan gue Melly menangis tersedu, sambil sesekali menggenggam erat tangan gue.

Gue bukannya pelit sama orang. Gue cuman gak mau buat orang lain susah.

Waktu itu memang papanya Melly minjam motor gue. tapi motor gue lagi rusak. Gue kan gak mau nanti papanya Melly balik balik setelah minjam motor gue bilang ‘gak ikhlas ya minjaminnya, kok mogok’.

Salah lagi kan gue.

Padahal sebenarnya gue itu akan sangat baik sama orang yang udah deket sama gue. sahabat gue contohnya.
Sahabat gue lagi gak ada uang gue pinjamin. Gak peduli kapan dia akan ngembaliinnya. Yang penting dia bisa makan dulu. Kadang dia minjam hp gue buat nelpon saudaranya atau temannya, gue pinjamin. Walau dia nelpon kelain operator.

Gue gak akan pernah perhitungan sama orang yang udah deket banget sama gue. apalagi yang udah simbiosis mutualisme sama gue. gak akan gue inget pemberian gue ke dia. Kalo pemberian dia ke gue bakalan gue inget.

Dan gue orangnya juga orang yang akan mencintai dengan tahapan.

Mungkin sekarang gue cuman baik sama Melly. Besok besok sama adiknya, besok sama orangtuanya. Dan besoknya sama keluarganya. Gak menutup kemungkinan kan.

I can do more than this

‘sayang kamu sedih gak?’ tanya Melly dalam keadaan mengelap air mata dipipinya.

‘emang tampang aku senang ya?’ gue tanya balik

‘enggak. mata kamu udah berkaca kaca’ jawabnya

‘berarti aku sedih apa enggak?’ tanya gue lagi

‘sedih’

Dan kita menghabiskan waktu beberapa saat ini dengan tangisan yang mungkin bisa ngebuat kita sedikit tenang dan ngelupain masalah tadi.

Cinta gue direstui kok. Cuman masalahnya papanya Melly hanya memandang gue dari segi negatifnya.

Padahal ada tujuan dibalik penolakan gue. tapi itu hanya dianggap negative dengan mengatakan gue orang pelit.Biarlah papa Melly menganggap gue orang yang pelit. Toh papa Melly belum tau gue itu gimana. Melly yang tau.

Dimulai dari Melly dulu gue membuktikan bahwa gue bukan orang yang mereka anggap. Jika Melly bahagia dengan gue itu berarti gue gak pelit.

Lagian percaya deh. Gue bisa ngelakuin sesuatu lebih dari apa yang gue lakuin sekarang. Gue bisa mencintai Melly

lebih dalam, gue bisa menyayangi keluarganya yang gue cuekin. Gue bisa. Tapi ada waktunya.

Gue cuman minta sama Melly untuk bertahan dulu sama gue. dan melihat perubahan gue 5, 6 ,8 atau bahkan 10 tahun yang akan datang.

‘sayang udah nangisnya ah’ gue mencoba menghibur Melly

‘……’ ngelap air mata dipipinya

‘ii.. cengeng deh’ gue meledeknya

‘kamu juga’ katanya

‘hehe’

Dan kita pun tertawa bersama sambil berharap masalah ini tidak menjadi besar.

Lega banget ya selesai menangis itu. Apalagi nangis digurun sahara sambil teriak sekenceng kencengnya pake toa. Pasti lega banget.

‘sayang sayang.. aku pulang lagi ya, udah sore nih’ gue membuyarkan tertawaan kita.

‘hah? Masa iya, jam berapa emang’

‘jam setengah 5 sayang’

‘hehehe.. aku gak tau. Kan lagi nangis gpp lah lupa’

‘iyaiya cerewet’

‘weekks’

‘’hehehe malah ngejek’

‘biarin’

‘yaudah aku pulang ya’

‘pulanglah, hehe’

‘gak ada ucapan gitu’

‘ii ngarep ya, wekkz’

‘hehe ya enggak, biar keliatan mesra gitu’

‘iii apaan sih’

‘ jadi beneran gak ada ucapan nih’ tampang sedih

‘dia pun yang cerewet’

‘hehehe’

‘hati hati ya sayang. Jangan main hp dijalan. Kalo dah sampe rumah aja sms aku’

‘oke kapten’

Gue pun berlalu dari kosnya. Dan bergegas pulang.

Ya semoga aja papanya Melly dapat mengerti gue. dan percaya bahwa gue bakalan bahagiain Melly serta mereka. Karena gue pasti bisa ngelakuin lebih daripada ini.

Yess. I can do more than this. course I can.

Advertisements

Komen aja dulu, kali aja ntar ada yang stalking nama kamu

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s